Home » Blog » Taste in Marketing Rahasia Sukses Iklan yang Jarang Dibongkar
taste in marketing

Taste in Marketing Rahasia Sukses Iklan yang Jarang Dibongkar

Blog 101

Dalam dunia periklanan modern, istilah taste in marketing semakin sering dibicarakan, meski belum banyak yang benar benar memahaminya. Bukan sekadar soal selera desain yang bagus atau copy yang terdengar keren, taste in marketing menyentuh wilayah yang jauh lebih halus yaitu kepekaan terhadap apa yang dianggap pantas, menarik, dan berkelas oleh audiens pada waktu tertentu. Di tengah banjir konten dan iklan di media sosial, kemampuan membedakan mana yang “berasa murahan” dan mana yang “terasa mahal” meski biayanya tidak besar menjadi senjata yang menentukan.

Iklan dengan konsep biasa saja bisa terasa sangat kuat jika dieksekusi dengan taste yang tepat, sementara kampanye dengan budget besar bisa jatuh datar jika seleranya terasa janggal. Di titik inilah banyak merek besar dan kecil diam diam bertarung, bukan hanya soal siapa yang paling keras berteriak, tetapi siapa yang paling halus menangkap rasa zaman dan menerjemahkannya menjadi komunikasi yang menyentuh hati dan pikiran.

> “Di era ketika semua orang bisa beriklan, taste in marketing adalah filter terakhir yang membedakan mana merek yang hanya terlihat ramai dan mana yang benar benar punya wibawa.”

Apa Itu Taste in Marketing dan Mengapa Begitu Krusial

Sebelum melangkah lebih jauh, perlu dipahami bahwa taste in marketing bukan istilah teknis yang punya definisi tunggal baku. Namun, ada benang merah yang bisa ditarik dari berbagai praktik di lapangan dan pengamatan terhadap kampanye kampanye yang dinilai “berkelas” oleh publik.

Definisi Sederhana Taste in Marketing

Secara sederhana, taste in marketing adalah kemampuan memilih dan menggabungkan elemen elemen komunikasi pemasaran desain visual, gaya bahasa, tone, medium, dan momen sehingga terasa tepat, selaras, dan “masuk” di mata dan hati audiens. Bukan hanya soal estetika, tapi juga sensitivitas sosial, budaya, dan psikologis.

Cara Mendapatkan Organic Traffic Meledak dari Nol!

Taste in marketing menyentuh beberapa lapisan sekaligus

1. Lapisan visual
Meliputi pilihan warna, tipografi, layout, komposisi foto atau video, hingga cara menampilkan produk. Visual yang punya taste biasanya terasa rapi, bersih, tidak berlebihan, dan ada konsistensi identitas merek.

2. Lapisan verbal
Cara menulis copy, memilih diksi, menggunakan humor atau tidak, seberapa informal gaya bicara, dan bagaimana ritme kalimat disusun. Kata kata yang tepat bisa membuat pesan sederhana terasa lebih elegan.

3. Lapisan emosional
Iklan yang punya taste tidak memaksa audiens untuk membeli, tetapi mengajak mereka merasa terhubung. Ada rasa menghargai kecerdasan dan waktu audiens, bukan merendahkannya dengan gimmick murahan.

4. Lapisan budaya
Taste in marketing juga menyangkut sensitivitas terhadap nilai nilai yang hidup di masyarakat. Iklan yang menyinggung isu sosial atau budaya dengan cara yang ceroboh biasanya langsung dinilai “tidak punya taste”.

SEO vs SEM Definisi, Perbedaan & Mana Terbaik?

Taste yang baik membuat iklan terasa “menghormati” audiens, sementara taste yang buruk membuat iklan terasa memaksa, norak, atau bahkan menyinggung.

Mengapa Taste in Marketing Menjadi Penentu di Era Konten Berlimpah

Di masa ketika semua orang bisa membuat konten dengan kamera ponsel, perbedaan kualitas teknis produksi semakin menipis. Yang tersisa sebagai pembeda adalah kepekaan rasa.

Ada beberapa alasan mengapa taste in marketing menjadi sangat krusial

1. Audiens semakin terlatih
Orang orang kini terbiasa melihat ratusan konten setiap hari. Tanpa sadar, mereka mengembangkan radar untuk membedakan mana yang terasa profesional dan mana yang terasa amatir.

2. Reputasi merek dibangun dari detail
Satu desain banner yang terasa “asal jadi” bisa merusak kesan merek yang selama ini dibangun dengan susah payah. Di sisi lain, detail kecil yang dikerjakan dengan taste yang baik bisa mengangkat citra merek secara signifikan.

Google Crawl Team WordPress Plugins Bug Laporan Mengejutkan!

3. Persaingan bukan lagi soal siapa yang muncul, tapi siapa yang diingat
Muncul di feed audiens tidak lagi istimewa. Yang penting adalah meninggalkan kesan. Taste in marketing membantu membentuk kesan itu tanpa harus selalu menggunakan cara yang keras dan agresif.

4. Konsumen makin selektif terhadap “rasa”
Konsumen bukan hanya membeli produk, mereka juga membeli rasa percaya diri, rasa diterima, dan rasa bangga. Taste yang tepat membuat mereka merasa nyaman tampil bersama merek tersebut.

Unsur Unsur Taste in Marketing yang Sering Diabaikan

Banyak pemasar berfokus pada angka dan target, tetapi lupa bahwa cara menyampaikan pesan sangat mempengaruhi bagaimana angka itu tercapai. Taste in marketing berada di wilayah “bagaimana” bukan hanya “apa”.

Bahasa Iklan dan Nada Bicara yang Mencerminkan Taste in Marketing

Bahasa adalah wajah pertama dari taste in marketing. Kata kata yang dipilih bukan hanya menyampaikan informasi, tetapi juga karakter dan wibawa merek.

Beberapa aspek penting

1. Pilihan diksi
Merek premium cenderung menghindari kata kata bombastis seperti super murah, banting harga, atau gila gilaan. Sebaliknya, mereka memilih diksi yang lebih tenang namun meyakinkan seperti penawaran istimewa, akses eksklusif, atau pengalaman berbeda.

2. Konsistensi tone
Jika di satu platform merek berbicara dengan gaya formal, lalu di platform lain tiba tiba sangat gaul dan penuh slang, audiens bisa merasa janggal. Taste in marketing menuntut konsistensi tone yang selaras dengan identitas merek.

3. Menghargai kecerdasan audiens
Iklan yang terlalu menjelaskan hal hal yang sudah jelas atau menggunakan gimmick berlebihan sering terasa meremehkan audiens. Taste yang baik cenderung subtil, memberi ruang bagi audiens untuk memahami tanpa dipaksa.

4. Penggunaan humor yang terukur
Humor dapat menjadi senjata ampuh, tetapi jika tidak tepat, bisa jatuh menjadi candaan receh yang merusak citra. Taste in marketing membantu mengukur seberapa jauh humor boleh digunakan.

Visual Branding yang Menggambarkan Taste in Marketing

Visual adalah pintu masuk tercepat ke benak audiens. Dalam sepersekian detik, orang bisa menilai apakah sebuah iklan terasa rapi, berkelas, atau malah berantakan.

Beberapa elemen visual yang terkait dengan taste in marketing

1. Warna
Merek dengan taste yang baik biasanya punya palet warna yang jelas dan konsisten. Mereka menghindari penggunaan terlalu banyak warna mencolok dalam satu materi kecuali memang menjadi konsep yang sengaja diusung.

2. Tipografi
Pemilihan font yang asal asalan sering membuat iklan terasa amatir. Kombinasi dua atau tiga jenis font yang selaras, dengan ukuran dan jarak yang terukur, dapat langsung mengangkat rasa profesional.

3. Komposisi
Ruang kosong atau white space adalah bagian penting dari taste in marketing. Iklan yang penuh sesak dengan teks dan gambar sering terasa murah, sementara desain yang memberi ruang bernapas terasa lebih tenang dan meyakinkan.

4. Kualitas foto dan video
Bukan hanya soal resolusi tinggi, tetapi juga soal framing, pencahayaan, dan gaya editing. Video dengan transisi berlebihan dan efek yang terlalu ramai sering kali mengurangi rasa elegan sebuah kampanye.

Taste in Marketing di Era Media Sosial yang Serba Cepat

Media sosial mengubah cara merek berbicara. Di satu sisi, semua serba cepat dan spontan. Di sisi lain, publik juga lebih cepat mengkritik jika merasa ada yang salah. Taste in marketing menjadi pagar tak terlihat yang membantu merek melaju tanpa tergelincir.

Cara Merek Menjaga Taste in Marketing di Konten Harian

Konten harian seperti Instagram Story, TikTok, atau Twitter sering dianggap wilayah yang lebih santai. Namun, di sinilah banyak merek terpeleset dan kehilangan wibawa yang sudah dibangun di kanal lain.

Beberapa strategi yang sering dipakai merek yang peka taste in marketing

1. Menetapkan batas gaya bahasa
Merek boleh santai, tetapi tetap ada batas. Misalnya, tetap menghindari kata kata kasar, candaan sensitif, atau istilah yang bisa menyinggung kelompok tertentu.

2. Template visual yang terarah
Meski konten harian dibuat cepat, merek tetap menggunakan guideline sederhana untuk warna, font, dan tata letak. Ini menjaga rasa konsistensi dan profesionalisme.

3. Memilih tren dengan selektif
Tidak semua tren TikTok atau meme cocok untuk semua merek. Taste in marketing membantu memutuskan tren mana yang bisa diadopsi tanpa merusak citra.

4. Respons terhadap komentar
Cara admin membalas komentar juga mencerminkan taste. Balasan yang terlalu sarkastik atau emosional bisa merusak kepercayaan, sementara jawaban yang tenang namun tegas menunjukkan wibawa.

Ketika Taste in Marketing Berbenturan dengan Kultur Viral

Viral sering menjadi kata sakti dalam pemasaran digital. Namun, tidak semua yang viral selaras dengan taste in marketing. Ada saat ketika keinginan untuk cepat terkenal membuat merek mengorbankan selera dan sensitivitas.

Beberapa contoh benturan yang sering terjadi

1. Konten sensasional
Menggunakan isu yang sedang panas untuk menarik perhatian tanpa empati yang cukup sering membuat merek dinilai oportunis. Taste in marketing menuntut kehati hatian ekstra dalam menyentuh isu semacam ini.

2. Gimmick berlebihan
Janji janji yang terlalu bombastis atau tantangan yang berpotensi membahayakan audiens bisa menimbulkan reaksi balik. Merek mungkin viral sesaat, tetapi kehilangan rasa hormat jangka panjang.

3. Mengikuti tren yang tidak sesuai identitas
Merek dengan citra elegan yang tiba tiba ikut tren joget joget dengan cara yang setengah matang bisa terlihat canggung. Taste in marketing membantu menahan diri dari keinginan untuk ikut semua arus.

> “Tidak semua hal yang ramai dibicarakan layak diikuti. Dalam marketing, kemampuan berkata ‘tidak’ pada tren yang tidak sejalan justru sering menjadi penanda kedewasaan sebuah merek.”

Taste in Marketing dan Posisi Merek di Benak Konsumen

Taste in marketing bukan sekadar soal estetika, melainkan juga strategi penempatan merek di benak konsumen. Cara berbicara, tampil, dan bersikap akan menentukan di kelas mana merek itu akhirnya ditempatkan oleh audiens.

Bagaimana Taste in Marketing Mengangkat Citra Merek

Sebuah merek bisa saja menjual produk dengan harga terjangkau, namun tampil dengan taste yang terasa “mahal”. Di sisi lain, ada merek yang mematok harga tinggi tetapi tampil dengan eksekusi yang terasa kurang rapi.

Beberapa cara taste in marketing mengangkat citra merek

1. Menciptakan kesan konsistensi
Merek yang konsisten dalam visual, bahasa, dan cara berinteraksi akan terasa lebih dapat dipercaya. Konsistensi ini bukan hanya soal guideline, tetapi juga soal taste dalam menjaga kualitas setiap materi komunikasi.

2. Memberi rasa eksklusif
Eksklusif tidak selalu berarti mahal. Bisa juga berarti terpilih, berbeda, dan tidak pasaran. Taste in marketing membantu menciptakan rasa bahwa merek ini tidak sekadar ikut ikutan.

3. Membangun kedekatan yang tidak memaksa
Merek dengan taste yang baik biasanya tidak terlalu agresif menjual. Mereka fokus membangun hubungan, berbagi cerita, dan memberi nilai, sehingga ketika akhirnya menawarkan produk, audiens sudah lebih siap menerima.

4. Menjaga jarak yang tepat
Ada merek yang terlalu ingin terlihat dekat hingga kehilangan wibawa. Taste in marketing membantu menjaga jarak yang pas antara hangat dan tetap profesional.

Risiko Ketika Taste in Marketing Diabaikan

Mengabaikan taste in marketing bukan hanya soal risiko iklan yang terlihat “kurang bagus”. Ada konsekuensi yang lebih dalam terhadap persepsi jangka panjang.

Beberapa risiko yang sering muncul

1. Merek terlihat inkonsisten
Materi iklan yang gaya dan kualitasnya berubah ubah membuat audiens sulit membangun asosiasi yang kuat. Merek menjadi mudah dilupakan.

2. Citra merek turun kelas
Iklan yang terlalu ramai, terlalu memaksa, atau terasa murahan bisa membuat produk yang sebenarnya berkualitas terlihat seperti barang obral.

3. Rentan diserang publik
Di era media sosial, kesalahan kecil dalam sensitivitas budaya atau sosial bisa dengan cepat memicu kritik. Taste in marketing berfungsi sebagai rem sebelum materi dilepas ke publik.

4. Sulit membangun loyalitas
Konsumen yang punya taste tertentu cenderung mencari merek yang selaras dengan rasa mereka. Jika merek terlihat tidak punya kepekaan, mereka akan dengan mudah beralih ke pesaing.

Meracik Taste in Marketing dalam Kampanye Nyata

Taste in marketing sering terdengar abstrak, namun pada praktiknya ia bisa diterjemahkan menjadi serangkaian keputusan konkret dalam setiap kampanye. Keputusan keputusan kecil itulah yang akhirnya membentuk rasa keseluruhan.

Proses Kreatif yang Berbasis Taste in Marketing

Dalam proses kreatif, taste in marketing berperan sejak tahap awal

1. Riset audiens bukan hanya demografi
Bukan hanya usia, lokasi, dan penghasilan, tetapi juga gaya hidup, referensi budaya, idola, dan kebiasaan konsumsi konten. Dari sini bisa terbaca taste audiens yang ingin disasar.

2. Menentukan batas estetika
Tim kreatif biasanya menetapkan batasan apa yang boleh dan tidak boleh digunakan. Misalnya, menghindari efek visual tertentu, jenis humor tertentu, atau topik yang dianggap terlalu sensitif.

3. Menguji konsep pada orang yang mewakili target
Sebelum kampanye besar diluncurkan, beberapa materi diuji pada kelompok kecil untuk melihat apakah taste yang dituju sudah tepat. Reaksi spontan sering memberi petunjuk penting.

4. Editing sebagai penjaga taste
Dalam banyak kasus, taste in marketing justru muncul di tahap pengurangan. Menghapus elemen yang berlebihan, memotong kalimat yang terlalu panjang, atau menyederhanakan visual agar lebih bersih.

Studi Kasus Singkat Taste in Marketing dalam Berbagai Industri

Beberapa industri menunjukkan penerapan taste in marketing secara sangat jelas

1. Industri fesyen
Merek fesyen menengah yang ingin naik kelas sering memperbaiki tone visual mereka foto produk yang tadinya berantakan diubah menjadi lebih minimalis, dengan lighting yang lembut dan latar yang bersih. Caption tidak lagi penuh promosi harga, tetapi bercerita tentang gaya hidup dan rasa percaya diri.

2. Industri kuliner
Restoran yang ingin dikenal sebagai tempat makan yang “Instagramable” biasanya sangat memperhatikan taste in marketing. Dari cara menata makanan, desain interior, hingga gaya bahasa di media sosial, semua diarahkan untuk menimbulkan rasa “pantas dipamerkan”.

3. Startup teknologi
Banyak aplikasi finansial dan teknologi yang berusaha menghilangkan kesan rumit dengan tampilan bersih, warna lembut, dan bahasa yang ramah. Taste in marketing di sini membantu membuat teknologi terasa lebih manusiawi dan tidak menakutkan.

4. Produk massal
Bahkan produk kebutuhan sehari hari seperti sabun atau minuman ringan kini bermain di wilayah taste. Iklan tidak lagi sekadar menunjukkan fungsi, tetapi juga rasa hidup yang ingin diasosiasikan dengan produk itu.

Menumbuhkan Taste in Marketing di Tim dan Perusahaan

Taste bukan sesuatu yang muncul tiba tiba. Ia bisa diasah, dibentuk, dan ditanamkan dalam budaya kerja tim pemasaran dan kreatif. Perusahaan yang menyadari pentingnya taste in marketing biasanya memberi ruang khusus untuk hal ini.

Cara Meningkatkan Kepekaan Taste in Marketing

Beberapa langkah yang sering dilakukan untuk menumbuhkan taste in marketing

1. Mengonsumsi referensi yang berkualitas
Tim kreatif dan pemasaran didorong untuk rutin melihat kampanye kampanye terbaik dari berbagai negara, bukan hanya yang viral lokal. Referensi luas membantu membentuk standar rasa yang lebih tinggi.

2. Diskusi internal tentang “rasa”
Bukan hanya membahas angka dan target, tetapi juga mengapa sebuah materi terasa enak dilihat atau tidak. Diskusi semacam ini membantu menyamakan persepsi taste di dalam tim.

3. Mengundang sudut pandang luar
Kadang, orang di luar tim justru bisa melihat dengan lebih jernih. Menguji materi pada orang yang bukan bagian dari proses kreatif dapat memberi sinyal apakah taste yang diinginkan sudah tercapai.

4. Memberi waktu untuk penyempurnaan
Taste in marketing sering hilang ketika semua serba dikejar cepat. Memberi sedikit ruang waktu untuk merevisi, menyederhanakan, dan merapikan bisa membuat perbedaan besar.

Peran Pemimpin dalam Menjaga Taste in Marketing

Pemimpin pemasaran dan brand manager memegang peran penting dalam menjaga taste in marketing. Mereka bukan hanya menyetujui atau menolak materi, tetapi juga menjadi penjaga standar rasa.

Peran peran penting tersebut antara lain

1. Menetapkan standar yang jelas
Bukan hanya guideline teknis, tetapi juga prinsip prinsip rasa misalnya menghindari eksploitasi isu sensitif, tidak menggunakan humor yang merendahkan, dan menjaga bahasa yang menghormati audiens.

2. Berani menolak yang “ramai tapi murahan”
Ada materi yang diprediksi akan viral, tetapi dengan cara yang bisa merusak citra. Pemimpin yang peka taste berani mengatakan tidak meski ada tekanan untuk mengejar angka jangka pendek.

3. Mengapresiasi kualitas, bukan hanya hasil instan
Tim yang hanya dinilai dari angka penjualan atau jumlah klik cenderung mengabaikan taste. Pemimpin perlu mengapresiasi juga materi yang mungkin tidak meledak secara angka, tetapi menjaga dan mengangkat citra merek.

4. Menjadi contoh dalam komunikasi
Cara pemimpin berbicara di publik, menulis di LinkedIn, atau tampil di media juga bagian dari taste in marketing. Publik sering kali melihat individu individu kunci sebagai perpanjangan dari merek itu sendiri.

Taste in marketing pada akhirnya adalah soal kejujuran rasa. Di balik semua data dan algoritma, manusia tetap merespons pada hal hal yang terasa tulus, rapi, dan menghargai. Merek yang berani menginvestasikan perhatian pada taste bukan hanya sedang mempercantik iklan, tetapi sedang membangun fondasi wibawa jangka panjang di benak konsumen.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *